Jumat, 19 April 2013

9 Jalan Bhakti


Bhagavan memberikan kita  sembilan jalan Bhakti, yaitu:
  1. Sravanam
    Mendengarkan kisah cerita Tuhan. Leela dan Mahima Tuhan.

  2. Kirtanam
    Menyanyikan kejayaan Nama Tuhan.
  3. Smaranam
    Mengingat nama Tuhan. 
  4. Pada Sevanam
    Pelayanan kepada Kaki Padma Tuhan. 
  5. Archanam
    Memuja Tuhan.
  6. Vandanam
    Bersujud /menghormat pada Tuhan.
  7. Dasyam
    Hubungan Tuan dan Pelayan seperti antara Sri Rama dan Hanuman.
  8. Sakhyam
    Pertemanan dengan Tuhan.
  9. Atma Nivedanam
    Mempersembahkan diri pada Tuhan dalam Penyerahan-Diri total.
...dari "Summer Showers" in Brindavan in 1990

Selasa, 04 Januari 2011

Ajnana-Dukha


"Ajnana (kebodohan) dan Dukha (kesedihan) tidak dapat dihancurkan dengan ritual dan upacara. Ini adalah pelajaran dari kitab suci. Namun, apa yang terjadi sekarang adalah bahwa orang-orang telah melupakan sifat mereka yang sebenarnya. Mereka percaya bahwa mereka adalah badan dan indera, dan menginginkan kesenangan duniawi. Mereka menipu diri mereka sendiri bahwa mereka dapat memperoleh kebahagiaan dengan melayani badan dan indera. Upaya-upaya tersebut tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka mendapatkan kekecewaan, kekalahan, dan bencana; mereka menuai kesedihan dan kegembiraan silih berganti. Ajnana hanya dapat dihancurkan dengan pengetahuan Ketuhanan. Ketika ilusi menghilang, kesedihan yang dihasilkan oleh karena keterlibatan seseorang dalam kebahagiaan dan kesedihan dunia dihancurkan dan orang bisa menyadari bahwa manusia adalah Perwujudan Kebahagiaan "
(Baba, dalam "Sutra Vahini", bab "Humanity is the Embodiment of Bliss").

Baahya Vidya-Brahma Vidya.


"Pengetahuan dapat dianggap memiliki dua aspek: Baahya Vidya dan Brahma Vidya. Baahya Vidya menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Engkau dapat mempelajari banyak mata pelajaran, memperoleh gelar yang bergengsi, mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dan hidup tanpa perasaan khawatir dan takut. Vidya jenis ini membantumu melakukan apapun pekerjaan yang engkau lakukan, baik menjadi pegawai rendahan atau Perdana Menteri. Di sisi lain, Brahma Vidya, memberkatimu dengan kekuatan, yang akan memungkinkanmu untuk berhasil melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadamu. Hal ini akan mengarahkanmu menuju kebahagiaan duniawi dan akhirat. Oleh karena itu, Brahma Vidya jauh lebih unggul dari semua Vidya yang tersedia untuk manusia di bumi ini."

(Baba, dalam " Vidya Vahini", bab12)

Senin, 03 Januari 2011

Wacana Mahaciwaratri: Kesatuan dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan


Bhagavan Sri Sathya Sai Baba bersabda:




"Pertama, Capailah Kesatuan dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan"

"Hanya perbuatan yang menyenangkan Tuhanlah yang harus kaulakukan. Hanya dengan demikianlah hidupmu sebagai manusia akan bermakna. Jantuunaam nara janma durlabham. Artinya, ‘di antara semua makhluk hidup, kelahiran sebagai manusia itu paling langka’. Kelahiran sebagai manusia yang sangat berharga dan langka ini jangan kausia-siakan."

"Sifat kemanusiaanmu akan hilang sama sekali bila engkau memperturutkan diri melakukan kebohongan, ketidakadilan, dan kejahatan. Karena itu, engkau harus mempunyai pikiran, perkataan, dan pandangan yang baik. Lihatlah hal yang baik, lakukan perbuatan yang baik, dan jadilah orang yang baik. Inilah makna yang terkandung dalam kehidupan manusia."

"Ada orang-orang yang mungkin kelihatan baik dan tersenyum, tetapi pandangan mereka penuh niat jahat. Ini tidak baik."

"Manasyeekam vachasyeekam, karmanyeekam mahaatmanaam,

Manasyanyat vachasyanyat, karmanyanyat duraatmanaam.

Artinya,

‘Mereka yang pikiran, perkataan, dan perbuatannya selaras sepenuhnya adalah orang-orang yang mulia.

Mereka yang pikiran, perkataan, dan perbuatannya tidak selaras adalah orang yang jahat.’"

"Harus ada kesatuan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatanmu. Bila engkau mempunyai kesatuan ini, maka engkau akan mencapai kemurnian, dan kemurnian akan membawamu menuju Tuhan. Karena itu, untuk mencapai Tuhan, engkau harus murni. Mengatakan satu hal lalu melakukan lainnya itu tidak baik. Ini sama sekali bukan kesatuan dalam perkataan dan perbuatan. Bagaimana engkau bisa murni tanpa kesatuan itu? Karena itu, bila engkau ingin menjadi murni, engkau harus mempunyai kesatuan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan."

"Misalkan ada orang yang mengecammu, engkau harus beranggapan bahwa hal ini pun demi kebaikanmu. Apa pun yang dilakukan orang lain, anggaplah bahwa semua itu untuk kebaikanmu."

"Lakukan segala kegiatanmu untuk menyelamatkan hidupmu. Engkau harus menjaga agar tidak kehilangan sifat-sifat kemanusiaanmu. Mungkin engkau kehilangan harta apa saja, tetapi jangan kehilangan harta sifat-sifat kemanusiaanmu. Tempuh hidupmu dengan selalu tersenyum dan dengan bahagia. Akan tetapi, tertawa tanpa perlu juga tidak baik."

"Engkau harus melakukan segala kegiatanmu dengan niat yang baik. Bila engkau melakukan perbuatan baik, pikiranmu juga akan baik. Bila manasmu penuh dengan pikiran yang baik, semua pikiran buruk akan lenyap. Karena itu, engkau harus selalu memupuk hanya pikiran-pikiran yang baik. Ini akan membuat kesehatanmu menjadi baik. Kita harus mengasihi semua makhluk. Kasihi semuanya, bantu dan layani semuanya. Bila engkau mengikuti prinsip ini, kesehatanmu akan selalu baik."

"Kesehatan itu perlu bagi manusia. Kesehatan tidak terbatas pada badan jasmani saja, tetapi juga mencakup kesehatan mental. Jangan pernah makan makanan yang tidak sepatutnya. Makanlah hanya makanan yang baik, suci, dan telah dikuduskan dengan dipersembahkan lebih dahulu kepada Tuhan. Jangan mempersembahkan makanan yang tidak pantas kepada Tuhan. Persembahkan kepada Tuhan hanya makanan yang suci dan sattvik 2), dalam wadah yang bersih. Engkau memperoleh hasil sesuai dengan persembahan yang kaulakukan."

"Sebagaimana perbuatan kita, maka demikianlah hasil yang kita peroleh. Tidak mungkinlah mendapat hasil yang baik dengan melakukan perbuatan yang buruk. Karena itu, kita harus melakukan berbagai perbuatan yang baik dan mengalami hasil yang baik. Hanya dengan demikianlah kita dapat mempunyai kesehatan yang baik. Bila kita makan makanan yang baik ( sattvika ), kita akan mempunyai pikiran-pikiran yang baik. Akan tetapi, dewasa ini orang-orang mengatakan satu hal dan melakukan hal lain."

"Suatu kali seorang sannyaasi, ‘pertapa Hindu’, datang ke suatu rumah dan meminta makanan. Nyonya rumah berkata kepadanya, “Anakku terkasih, pergilah ke sungai dan mandi. Sementara itu, Ibu akan menyiapkan makanan untukmu.” Sannyaasi ini adalah contoh orang yang malas. Ia berkata kepada ibu itu, “Bu! Untuk sannyaasi seperti kami, Goovindeeti sada snaanam, ‘melantunkan nama Tuhan itu sama dengan mandi’.” Nyonya rumah yang cerdas itu memberinya jawaban yang tepat, “Goovindeeti sada bhoojanam. ‘Melantunkan nama Tuhan itu sama dengan makan’. Karena itu, Anda boleh pergi.” Tidak ada artinya mengatakan Goovindeeti sada snaanam untuk membenarkan kemalasan kita dan tidak mandi. Bila engkau berkata bahwa melantunkan nama Tuhan itu sama dengan mandi, engkau juga harus menerima bahwa melantunkan nama Tuhan itu sama dengan makan. Kita harus mengikuti norma-norma kesopanan dan kepatutan dalam hidup kita."

(Wacana Bhagawan Sri Sathya Sai Baba Pada Perayaan Shivaraatri, 7 – 3 – 2008 Pagi )
lebih lanjut silahkan klik:
http://wacana.ssgi.us/2008/03/wacana-bhagawan-sri-sathya-sai-baba.html

Kamis, 30 Desember 2010

Chinna Katha: Vinayaka


VINAYAKA-YANG MEMIMPIN SEMUANYA

Pada suatu ketika, direncanakan sebuah pertandingan antara para dewa untuk memilih
pemimpin para Gana (kelompok setengah dewa yang menjadi pengiring Siwa). 
Para peserta harus mengelilingi dunia dengan cepat dan kembali kepada Siwa. 
Para dewa berangkat dengan kendaraan masing-masing. 
Putra Siwa yang lebih muda dengan penuh semangat ikut bertanding juga. 
Ia mempunyai kepala seperti gajah, kendaraannya adalah seekor tikus, karena itu
jalannya amat lambat. 
Belum jauh ia beringsut, muncullah Narada di hadapannya dan bertanya, "Kemanakah
tujuan Anda?" Anak ini sangat jengkel dan menjadi amat marah, karena apa yang
terjadi adalah pertanda jelek dan sungguh tidak menguntungkan bagi orang yang
akan bepergian. 
Benar-benar sial jika dalam perjalanan orang bertemu dengan seorang Brahmin
bujangan, walau pun ia yang paling utama di antara para Brahmin (Narada adalah
putra Brahma), Narada merupakan pertanda jelek! 
Lagi pula jika engkau pergi ke suatu tempat dan seseorang bertanya padamu,
"Kemana tujuan Anda?", itu merupakan suatu pertanda jelek, dan justru
Narada menanyakan hal itu kepadanya.

Walaupun demikian, Narada berhasil meredakan kemarahannya. 
Dari putra Siwa ini didengarnya penyebab kesulitannya dan hasratnya
untuk menang. 
Narada menghiburnya dan menasehatinya agar jangan mudah menyerah
dan berputus asa. 
Dinasehatinya sebagai berikut, "Nama Rama - adalah benih yang menumbuhkan
pohon raksasa yang disebut dunia. 
Maka tulislah nama itu di tanah, kelilingilah satu kali dan cepat-cepat kembali
ke Siwa untuk menuntut hadiahnya."
Ia melaksanakannya dan kembali ke ayahnya. 
Ketika ditanya bagaimana caranya ia kembali begitu cepat, diceritakannya
kisah dan nasehat Narada. 
Siwa menghargai kebenaran nasehat Narada; hadiahnya dianugerahkan
kepada putranya, yang dinyatakan dengan gembira sebagai Ganapati
(pemimpin para Gana) dan Vinayaka (yang memimpin semuanya).

(Baba)

note:
Chinna katha merupakan cerita ilustrasi yang diberikan oleh Bhagavan
Sri Sathya Sai Baba kepada kita, yang sarat akan pesan moral dan spiritual.
...membaca edisi China Katha yang lain silahkan klik:
http://www.ssg-kupang.hostoi.com/ChinnaKatha/

Minggu, 26 Desember 2010

Ashram


"Apakah ashram? Ashram adalah tempat tanpa shrama ‘kesulitan’. Namun, kalian mengubah ashram ini menjadi tempat shrama! Kalian tidak berhak tinggal di ashram, jika kalian tidak mengikuti perintah Swami dan tidak memahami kasih serta sifat ketuhanan Beliau. Kalian tidak akan memperoleh manfaat apa-apa, jika kalian hanya tinggal di sini tanpa melaksanakan ajaran Swami."

(Wacana Bhagawan pada hari pertama perayaan Dasara, 14-10-1999)

Selasa, 21 Desember 2010

"Dalam persoalan yang berhubungan dengan Tuhan, tidak ada gunanya mementingkan diri sendiri"


Ada sebuah kisah pendek dari Mahabharata.
 
Dengan tujuan agar Krishna berada di pihaknya,Sathyabhama, 
salah satu istri Krishna bertanya pada Narada agar memberi tahukan suatu cara, 
jalan yang singkat agar ia dapat mencapai tujuannya. 
Narada tahu bahwa Sathyabama amat mementingkan diri sendiri dan sifat semacam ini tidak akan berhasil dalam hati yang berhubungan dengan Tuhan.

Narada ingin memberikan satu pelajaran pada Sathyabama dan berkata bahwa ia mengetahui suatu cara agar Krishna berada di pihaknya. 
Dalam suatu upacara ia harus menyerahkan suaminya sebagai hadiah pada seseorang dan membelinya kembali dengan membayar uang yang sama beratnya dengan berat badan Krishna.
Narada berkata, jika Sathyabama melakukan upacara ini, dalam keadaan apapun Krishna selalu akan menjadi miliknya. 
Sathyabama tertarik oleh rencana tersebut. 
Oleh karena itu ia melakukan upacara memberikan Krishna kepada Narada dan kemudian memintanya kembali.

Ia mendudukkan Krishna pada sebelah timbangan yang satu dan pada sisi yang lain diletakkannya semua perhiasannya. Tetapi semua itu belum cukup untuk mengimbangi berat Krishna. Narada melihat kesempatan yang sangat bagus dalam situasi tersebut dan memberitahu Sathyabama, karena ia tidak dapat memberikan emas yang dibutuhkan seberat badan suaminya, maka sejak hari itu Narada mengambil Krishna.

Krishna bukan lagi milik Sathyabama. Beliau akan menjadi milik Narada. Dalam keadaan demikian, Sathyabama teringat pada Rukmini (Rukmini adalah permaisuri Krishna), dan pergilah ia mencarinya.

Dijumpainya Rukmini sedang melakukan puja tulasi. Rukmini yang sedang membawa beberapa helai daun tulasi, terkejut melihat Sathyabama berusaha menimbang Tuhan dengan emas. Ia tahu, ini tidak mungkin akan berhasil.

Rukmini berkata bahwa emas tidak akan lebih berat dari Tuhan dan hanya nama Tuhan yang dapat mengimbangi beratNya.

Narada tidak menyetujuinya dan berkata, karena Krishna mempunyai wujud yang dapat dilihat, Beliau harus ditimbang dengan sesuatu yang dapat dilihat.

Rukmini segera dapat memahami situasi dan berkata pada diri sendiri bahwa apakah itu buah, bunga atau sehelai daun, atau bahkan sesendok air, bila diberikan dengan penuh kepercayaan, Tuhan pasti akan menerimanya. Jika hal itu benar, ia mengharapkan Krishna akan menerima apa yang akan dilakukannya dengan penuh keyakinan.

Rukmini meletakkan sehelai daun tulasi pada piringan timbangan yang lain sambil mengucapkan nama Krishna. Hanya dengan kasih sayang, cinta dan hati yang murni, seseorang bisa mendapatkan Tuhan. 
Rukmini menang.

(Baba, dalam" China Katha 1")

Sabtu, 03 Oktober 2009

"Guru-Sisya




* Siapakah yang layak menjadi seorang Guru

* dan siapakah yang pantas menjadi seorang siswa ?



Bila kita kaji Geetha, akan kita ketahui apakah kita telah menjadi seorang shishya ataukah tidak:



Dalam Bhagavath Geetha,

* seorang shishya haruslah Narotthama (orang dengan kwalitas tertinggi di kalangan manusia),

* sedangkan Guru hendaknya Purushotama (orang dengan kwalitas maha tinggi);



Lebih lanjut diungkap bahwa:

* shishya adalah Mahaathma ( jiwa nan agung),

* sedangkan Guru adalah Paramaathma (jiwa yang maha agung);



* shishya adalah Aadarsha-muurthi (manusia ideal),

* dan Guru adalah Avathaara-muurthi (perwujudan Ilahi);



* shishya adalah Paathradhaara (pemeran),

* dan Guru adalah Suuthradhaara (sutradara);



* shishya adalah Dhanurdhara (pemegang busur),

* dan Guru adalah Yogeshwara (Penguasa Yoga).



Itulah bentuk hubungan Guru – Shishya yang menggambarkan pasangan yang sangat ideal.

( dikutif dari  wacana Sri Bhagavan pada hari Guru Puurnima 13 Juli 1984)

Swaami tidak akan mengabaikan bhakta-Nya.


* Ke-Premathathva-an Swaami (dasar kasih-sayang yang alami) kekal adanya.

* Ke-Prema-an Swaami (kasih-sayang) sama sekali tidak mengandung kepentingan pribadi.

* Kasih-sayang beliau itu mutlak suci dan murni.

* Swaami selalu hanya berniat bagaimana memberi, sama sekali tidak pernah meminta.

* Telapak tangan Swaami selalu tertelungkup untuk memberi sesuatu, sama sekali bukanya tengadah untuk meminta apapun.

* Lebih lanjut Swaami pernah mengungkapkan bahwa “Engkau adalah milik Ku”,

maka walau bagaimanapun kesalahan mereka memilih jalan,

Swaami tidak akan mengabaikan bhakta Nya.

Mungkin muncul pertanyaan mengapa seseorang yang telah diterima Swaami sebagai :

“Engkau adalah milik Ku”

namun tetap menghadapi kesulitan yang berat,

hal tersebut terjadi karena kesulitan itu merupakan akibat karma (perbuatan) mereka sendiri dan yang memang harus mereka terima.

Semua bhakta Swaami harus memahami dan yakin bahwa prilaku mereka benar.

Bila seorang bhakta berharap agar Tuhan mengkaruniainya usia seratus tahun,

tidaklah wajar bila ia melonjakkan kebanggaan dan kesombongan,

kemudian mulai melompat dari ketinggian pohon karena kelewat yakin bahwa dia akan hidup selama satu abad.

Boleh jadi bhakta itu memang hidup selama seratus tahun,

namun bukankah juga ada kemungkinan bahwa kakinya akan patah ketika ia jatuh dari pohon yang tinggi itu.



Dengan demikian, setelah menerima anugerah Tuhan, seseorang haruslah juga berupaya hidup ke arah kebenaran.


Ini merupakan wacana Sri Bhagavan pada hari Guru Puurnima 13 Juli 1984.

Apa yang dibutuhkan oleh negara

adalah:
 Orang-orang dengan
aadharsha
(ideal = cita-cita),

dan bukannya
aashas
(pengidam).


Keinginan manusia bisa jadi berubah dari waktu-kewaktu,
namun cita-cita tetap terpegang erat hingga seorang mencapai akhir khayat.

Karena itu setiap orang haruslah mencoba hidup seperti yang dicita-citakan masyarakat.



Engkau harus menjalani kehidupan yang bisa ditauladani.



Engkau hendaknya menjadi atma yang agung dan menjadi kebahagiaan sejati yang kokoh kuat,



yang kenyataanya hanya bisa terwujud dari ke-Ilhaian-an itu sendiri.

 
Ini merupakan wacana Sri Bhagavan pada hari Guru Puurnima 13 Juli 1984.

Kedatangan Avathaar-avathaar disertai keputusan yang pasti


Bhagavan Bersabda:

Kedatangan Avathaar-avathaar disertai keputusan yang pasti


Oleh karenanya setiap orang haruslah mempersiapkan keputusan hati yang penuh kepastian.

Tanpa keputusan yang pasti maka tiada akan ada kemajuan yang dapat diraih.

Bahkan Avathaar-avathaar sekalipun mewujudkan kedatangan mereka dengan menyertakan pula keputusan yang pasti.

Avathaar-avathaar juga menentukan batasan-batasan yang pasti dalam peran mereka.



Sri Krishna menjelma dengan menyatakan tiga keputusan :


(1) Dharma samsthaapanaarthaaya sambhavaami yuge yuge


(“Aku akan menjelma dari jaman ke jaman untuk menegakkan Dharma”);


(2) Yogakshemam Vahaamyaham


(“Aku akan mendorong peningkatan kwalitas bhakta-bhakta Ku”);


(3) Mokshayishyaami maa suchah


(“Siapapun yang menyerahkan diri sepenuhnya pada Ku, maka akan Ku beri kebebasan).



Sri Raama juga memiliki tiga keputusan, yaitu :


* Satu kata,


* satu anak panah,


* satu istri.


Raama mengungkapkan bahwa barang siapa memohon perlindungan pada beliau,


maka akan mendapat perlindungan penuh.



Sama halnya dengan perwujudan Ilahi (Avathaar) yang lain,

yang semuanya datang dengan beberapa maksud dan tujuan yang jelas,

maka dalam keadaan yang bagaimanapun Avathaar-avathaar tidak akan pernah menyimpang dari maksud dan tujuanNya.

Ini merupakan wacana Sri Bhagavan pada hari Guru Puurnima 13 Juli 1984.

TIGA JANJI AVATAR

“ Seperti juga Sri Raama dan Sri Krishna pada yuga-yuga terdahulu,

maka Aku datang dengan membawa serta:


Tiga Prathijanaas (janji):

1.

Sekali Swaami menerima seorang bhakta dengan menyebut mereka sebagai

‘Engkau adalah milik Ku,’

maka Aku tiada akan meninggalkan bhakta Ku, walau apapun yang akan terjadi.



2.

Swaami datang untuk memberi, bukan untuk menerima.



3.

Bila Aku telah melaksanakan sesuatu demi kebaikan dunia maka Aku tak akan menghentikannya, meski apa yang mungkin

terjadi. “



Pernyataan bersejarah ini diungkap oleh Sri Bhagavan dalam sebuah wacana yang menggeletarkan hati pada perayaan Guru Puurnima di Auditorium Poornachandra. Kehadiran sejumlah besar bhakta mancanegara seperti saat itu belum pernah terjadi sebelumnya, mereka bertempik sorak penuh suka-cita mendengar pernyataan Bhagavan dalam misi keavataran Beliau.

Ini merupakan wacana Sri Bhagavan pada hari Guru Puurnima 13 Juli 1984.